Membangun komunikasi yang hangat dengan anak tidak selalu membutuhkan waktu berjam-jam atau topik yang berat. Terkadang, kalimat-kalimat pendek yang tepat justru lebih ampuh untuk membuat anak merasa dipahami dan dihargai. Menurut Wendy Mogel, PhD, penulis The Blessing of a Skinned Knee, cara paling efektif untuk berbicara dengan anak adalah dengan menggunakan kata-kata sederhana yang mampu menerima perasaan mereka, namun tetap menegakkan aturan yang ada.

Berikut beberapa ungkapan sederhana yang bisa Bunda coba praktikkan sehari-hari untuk meningkatkan kualitas komunikasi dengan si kecil.

1. "Bunda perlu memikirkannya dulu"

Daripada langsung bereaksi terhadap permintaan atau pertanyaan anak, Bunda bisa menunda sejenak dengan kalimat ini. Ungkapan ini memberi Bunda otoritas dan waktu untuk berpikir, sekaligus mengajarkan anak bahwa orang dewasa pun perlu mempertimbangkan sebelum berbicara. Jika anak terbiasa mendengarnya, mereka akan belajar untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Kebiasaan ini akan sangat bermanfaat saat mereka beranjak remaja, karena mereka akan lebih hati-hati dalam bertindak.

2. "Bagaimana perasaanmu tentang itu?"

Kalimat ini sangat ampuh dalam berbagai situasi, terutama saat anak mengalami momen yang tidak ideal. Alih-alih langsung memuji berlebihan atau menghakimi, Bunda bisa bertanya tentang perasaan mereka. Pertanyaan ini membuat anak berhenti sejenak dan merenungkan emosinya sendiri. Mereka pun belajar untuk mengenali dan mengelola perasaan, serta memikirkan konsekuensi dari tindakan mereka.

3. "Wah..."

Ungkapan singkat ini bisa menjadi penyelamat ketika anak bercerita tentang masalah atau kesalahan yang mereka lakukan. Dengan mengatakan "Wah...", Bunda memberi sinyal bahwa Bunda mendengar dan mengakui apa yang terjadi, tanpa langsung memberikan respons atau ceramah. Ini memberi Bunda waktu untuk menenangkan diri dan melihat situasi dari sudut pandang yang lebih jernih sebelum memberikan nasihat.

4. "Yuk, kita cari sisi baiknya"

Mendengarkan anak mengeluh memang melelahkan, tetapi menjadi pendengar yang baik adalah kunci. Setelah anak selesai bercerita, Bunda bisa duduk di sampingnya dan mengajak mencari hikmah dari masalah tersebut. Meskipun anak mungkin menolak, tetaplah membimbingnya untuk melihat hal positif. Perlahan, anak akan belajar beradaptasi dan mengelola emosi dengan lebih baik.

5. "Dengarkan tubuhmu"

Sebagai ibu, kita sering kali lebih tahu kebutuhan fisik anak daripada anak itu sendiri. Namun, jika kita terus mengatur, anak tidak akan belajar mandiri. Ketika anak mengeluh sakit perut, cobalah tanyakan apa yang mereka rasakan, bukan langsung menyimpulkan. Bimbing mereka untuk mengenali sinyal tubuh, seperti membedakan antara lapar dan gugup. Dengan begitu, anak akan lebih peka terhadap kebutuhan tubuhnya sendiri.

6. "Tarik napas dulu"

Kalimat ini sangat berguna saat anak merasa terburu-buru atau gelisah, misalnya saat transisi antar aktivitas. Mengajak anak menarik napas juga menjadi pengingat bagi Bunda untuk menenangkan diri. Anak-anak meniru suasana hati orang tuanya. Jadi, jika Bunda bisa tenang, anak pun akan belajar mengelola situasi yang menegangkan dengan lebih baik.

7. "Apakah kamu mau mengulanginya?"

Saat anak berperilaku kurang baik, seperti menolak makan sayur atau berebut mainan, Bunda bisa menggunakan kalimat ini untuk mengingatkan tanpa mempermalukan. Ungkapan ini memberi kesempatan kepada anak untuk memperbaiki diri dan merasa bahwa Bunda adalah sekutu, bukan lawan. Ketika anak merasa didukung, mereka akan lebih kooperatif.

8. "Itu ide yang bagus!"

Memberikan apresiasi terhadap ide anak, sekecil apa pun, akan membuat mereka merasa dihargai dan percaya diri. Dukungan ini membantu anak menyadari bahwa mereka mampu memecahkan masalah sendiri. Baik itu saat anak memilih pakaian atau menyelesaikan tugas, pujian yang tulus akan memperkuat hubungan dan komunikasi.

Itulah beberapa kalimat sederhana yang bisa Bunda praktikkan. Kuncinya adalah konsistensi dan ketulusan. Dengan komunikasi yang hangat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu mengelola emosinya dengan baik.

Reporter: Maya Handayani